sebuah malam di gerbong kereta yang gelap

sebuah malam di gerbong kereta yang gelap
gemeretak roda menggilas rel
lokomotif melaju
debar-debar jantungku berpacu dengan gerak kereta
seakan mengingatkanku,
bahwa tubuhku hidup

pijar cahaya di luar jendela
separuh berkelebat,
separuhnya menerangi hatiku
yang menerawang jauh
keluar dari tubuh ini

kau duduk di sebelahku
menggenggam erat tanganku
setetes air meleleh
aku merasa hidup dan ada

                            

kosong

sebuah hentakan dalam hidup
yang membangkitkan amarah
meledak bersama tangisan
sebelum aku pahami,
aku telah luruh dalam sedih tak bertepi
ternyata sebagian diriku telah direnggutnya

kini, tangis itu telah reda
namun kesedihan mengendap
tersisa di pelupuk mata

redup,
nanar tak bergeming
hambar,
tidak ada rasa

ingin aku berhenti berpura-pura
menginginkan sesuatu yang entah

jatuh cinta

kamu tumbuh dalam diriku
menyeruak bermunculan begitu saja
hatiku kini mirip gelembung-gelembung sabun
yang sengaja kau tiup,
lalu terbang dan meletus di udara
plopplopplop!

sosokmu berdesiran di celah-celah hari
menguntitku tanpa henti,
bahkan diujung mimpi sekalipun

seluruh dunia telah disihir penuh warna
astaga! ada rumput berwarna merah muda...

ah, percuma saja aku bersembunyi
kerling jenaka matamu membangkitkan sesuatu yang tersembunyi
jauh didalam diriku

konsep dewasa yang lucu

Seperti biasa, selain ketika nongkrong di kloset, nuansa malam selalu mendorong gw buat mikir yang lucu dan aneh aneh. Dan renungan malam ini adalah tentang kedewasaan. Sederhana sih awalnya, lagi ngerjain paper berkaitan sama suksesi pada hutan Papandayan dan menemukan sebuah pernyataan yang dibuat oleh om Richards. Katanya si om gini : “Since Tropical Rain forest is a climatic climax, it must, by definition, be in a state of equilibrium”. Kalo diartikan secara sederhana, kira-kira jadinya gini : hutan hujan tropis dewasa punya karakteristik selalu berada pada keadaan setimbang. Terminologi setimbang dalam hal ini berarti bahwa setiap muncul gangguan yang menyebabkan komposisi tumbuhan si hutan berubah, maka hutan akan secepatnya berusaha menyeimbangkan kembali komposisi itu (gw inget banget ini, secara ini salah satu pertanyaan yang gw ga bisa jawab pas sidang, damn!!!). Dalam skala kecil (individu), komposisi memang ga akan persis sama seperti sebelum terjadinya gangguan, tapi dalam skala besar (komunitas) tetap sama.

Okay, sekarang tentang proses pendewasaan hutan itu sendiri, yang jelas hutan ga punya masa akil balig kaya manusia. Artinya ga ada suatu event yang cukup signifikan yang menandai bahwa secara fisiologis hutan itu telah dewasa. Kedewasaan hutan terjadi secara bertahap, yaitu dengan perubahan terarah dari komposisi tumbuhan hutan. Tar dulu, ko bisa muncul kata perubahan?!! Jadi ternyata hutan tuh bentuknya ngga serta merta langsung dewasa, perfek, dan aduhai. Hutan juga terkena imbas seleksi alam, dan komponen tumbuhan penyusunnya beradaptasi. Jadi tumbuhan yang ngga mampu beradaptasi ya I’m sori gudbai. Tapi kalo yang mampu beradaptasi ya bisa bertahan dan jadi komponen penyusun hutan dewasa (dan meneruskan kelestarian gennya, amin om Dawkins).

Okay, enough tentang hutan dan teori seriusnya, Bu Guru… sekarang bagian yang lucunya. Mau ga mau gw jadi berpikir tentang proses pendewasaan manusia, karena ada kemiripan di dalamnya. Secara ya, menjadi tua adalah kodrat, tapi menjadi dewasa adalah pilihan! Jadi bagi gw dewasa bukan ditandai dengan event signifikan seperti periode menstruasi ato mimpi basah belaka, tapi menjadi dewasa adalah proses. Namanya juga proses, artinya ada tahapannya dong. Iya ngga? Mungkin selama proses itu terjadi, kita, mahluk-mahluk remaja alias brondong akan didera oleh serangkaian cobaan. Cobaan itu akan mengubah kita, baik itu dalam hal paradigma, bentuk tubuh (karena cobaan mendatangkan stress dan akhirnya bentuk tubuh menjadi tidak sebohay dahulu), atau prinsip sekalipun. Sampai pada akhirnya kita akan mencapai kestabilan, artinya mau sebrengsek apapun keadaan, kita akan tetap bertahan dengan prinsip kita. Penyikapan kita terhadap sesuatu hal bisa berbeda, tapi pada dasarnya ada sesuatu dalam diri kita yang ngga pernah berubah.

Nah… nah… nah… proses pendewasaan bisa gagal juga loh, seperti halnya fenomena Gunung Guntur, Garut yang selalu gagal menjadi hutan kembali dikarenakan gangguannya terlalu wahid (kebakaran periodik); maka bukan ga mungkin kalo manusia juga bisa gagal dewasa dan terjebak pada masa bronis (brondong nista) yang kritis… jadi dengan kata lain proses pendewasaan ini “dijamin tidak gagal” tapi dibaca dengan arabic style (gagal tidak dijamin)…

Bagaimana dengan kamyu-kamyu sekalian? Sempatkah meminta garansi anti gagal ketika menandatangani perjanjian untuk diturunkan ke bumi? Kalau sudah tolong dicek expiry datenya, kalo belom harap diingat kembali konsep “teliti sebelum membeli”.

aku

boleh saja binar itu redup sesekali
namun baranya takkan pernah mati
seperti kisah tetes air,
yang selalu menemukan caranya menjelma hujan kembali

hitam dan biru

dia...
dengan begitu saja dia hadir,
seorang lelaki dengan getir dan ruang-ruang sunyi

kamu...
kamu seperti langit

hitam penuh misteri,
yang dalam kelam meraup kegelisahan
menaungi sisi-sisi hatiku yang hampir beku
lalu luruh seperti hujan,
membebaskan asa yang terpendam

dan birumu...
meluas tak berbatas
menyeruak mengangkasa
menguapkan batas-batas :
hal-hal yang tak tercerna oleh akal

semua terangkum indah padamu

biarkan saja celoteh dan hingar bingar dunia yang takkan pernah usai itu
karena kau, aku, kita...
akan selalu memiliki ruang kembara jiwa : istirah terindah tempat kita berpulang

sebuah panggilan dari kegelapan

"kemari... kemarilah..."

katanya :
biar kudekap dirimu
agar semakin nyata kesedihanmu
terang hanya akan membuatmu silau
gelaplah yang akan menjagamu
merengkuhmu dalam ketiadaan
sunyi... untukmu sendiri
itu kan yang kau butuhkan?

aku mengerti setiap kegalauanmu
bersandarlah padaku
biarkan alur hampaku mengisi setiap kesenyapan jiwamu

kemarilah
tak ada yang perlu kau risaukan
aku menerimamu apa adanya
karena semua buram tak terlihat
itu lebih baik dari pijar yang palsu

seonggok daging

seonggok daging
mengiba, menjulurkan lengan kurusnya
dia hanya tahu meminta

seonggok daging
berharap secuil remah-remah
yang menempel di ujung bibirmu
ia seka ingus dengan baju kumalnya
kau teringat kain lap kotor
yang teronggok di ujung dapurmu
kotor karena dipakai mengelap jelaga wajan
seperti mereka yang mengais debu jalanan

seonggok daging melompat-lompat
bergelantungan di pintu dan jendela kendaraan

Astaga, pikirnya jalan raya ini taman bermain
dimana sesekali orang melempar koin?

kau meringis
entah resah karena pemandangan yang kau lihat
atau karena tak tahu harus berbuat apa

bersatulah pelacur-pelacur kota Jakarta

Pelacur-pelacur kota Jakarta
dan kelas tinggi dan kelas rendah
telah diganyang
telah dihm-biru
Mereka
kecut
keder
terhina dan tersipu-sipu.

Sesalkan mana
yang mesti kau sesalkan.
Tapi jangan
kau klewat putus asa.
Dan kau relakan dirimu dibikin korban

Wahai, pelacur-pelacur kota Jakarta.
Sekarang bangkitlah.
Sanggul kembali rambutmu.
Kema setelah menyesal
datanglah
kini giliranmu
bukan untuk membela diri melulu
tapi
untuk Iancarkan serangan.
Kema :
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
tapi
jangan kau rela dibikin korban.

Sarinah.
Katakan kepada mereka
bagaimana kau dipanggil
ke kantor mentri
bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
tentang perjuangan nusa bangsa
dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
ia sebut kau inspirasi revolusi
sambil ia buka kutangmu.

Dan kau, Dasima.
Kabarkan kepada rakyat
bagaimana para pemimpin revolusi
secara bergiliran memelukmu
bicara tentang kemakmuran rakyat
dan api revolusi
sambil celanya basah
dan tubuhnya lernes
terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya.

Politisi
dan pegawai tinggi
adalah caluk yang rapi.
Kongres-kongres dan koperensi
tak pernah berjalan tanpa kalian.
Kalian tak pernah bisa bilang 77 tidak”
lantaran kelaparan yang rnenakutkan
kerniskinan yang
mengekang
dan tdah lama sia-sia cari kerja.
Ijazah sekolah tanpa guna.

Para kepala jawatan
akan membuka kesempatan
kalau kau membuka paha.
Sedang di luar pemerintahan
perusahaan-perusahaan macet
lapangan kerja
tak ada.

Revolusi para pemirnpin
adalah revolusi dewa-dewa.
Mereka berjuang
untuk surga
dan tidak untuk bumi.

Revolusi dewa-dewa
tak pernah menghasilkan
Iebih banyak lapangan kerja
bagi rakyatnya.

Kalian adalah
sebahagian kaum penganggur
yang mereka ciptakan.

Namun
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
tapi jangan kau klewat putus asa
dan kau rela dibikin korban.

Pelacur-pelacur
kota Jakarta.
Berhentilah tersipu-sipu.
Ketika kubaca di koran
bagaimana badut-badut menggayang kalian
menuduh kalian sumber bencana negara
aku jadi murka.
kalian adalah temanku.
Ini
tak bisa dibiarkan.
Astaga.
Mulut-mulut badut.
Mulut-mulut yang latah.
Bahkan sex mereka perpalitikkan.

Saudara-saudariku.
Membubarkan kalian
tidak semudah membubarkan partai politik.
Mereka hams beri kalian kerja.
Mereka hams pulihkan darjat kalian.
Mereka hams ikut memikul kesalahan.

Saudari-saudariku. Bersatulah.
Ambillah galah.
Kibarkan kutang-htangmu
di ujungnya.
Araklah keliling kota
sebagai panji-panji yang telah mereka nodai.
Kinilah giliranmu menuntut.
Katakanlah kepada mereka:
Menganjurkan mengganyang pelacuran
tanpa menganjurkan
mengawini para bekas pelacur
adalah omong kosong.

Pelacur-pelacur kota
Jakarta.
Jangan melulu keder pada lelaki.
Dengan mudah
kalian bisa telanjangi kaum palsu.
Naikkan taripmu dua kali
dan mereka akan klabakan.
Mogoklah satu bulan
dan mereka
akan puyeng
lalu meraka akan berjina
dengan isteri saudaranya.

Saudari-saudariku.

(W. S Rendra)


ini salah satu puisi yang gw teriakkan di tunnel sunken bersama Hanna

jalan menuju rumahmu

Jalan menuju rumahmu kian memanjang
udara berkabut dan dingin subuh
membungkus perbukitan. Aku menggelepar
di tengah salak anjing dan ringkik kuda
Engkau di mana? Angin mengupas lembar-lembar
kulitku dan terbongkarlah kesepian dari tulang-tulang
rusukku. Bulan semakin samar dan gemetar.

Aku menyusuri pantai, menghitung lokan dan bicara
pada batu karang. Jalan menuju rumahmu kian lengang
udara semakin tiris dan langit menaburkan serbuk
gerimis. Akupun mengalun bersama gelombang
meliuk mengikuti topan dan jumpalitan
bagai ikan. Tapi matamu kian tak tergambarkan

Kulit-kulit kayu, daun-daun lontar, kertas-kertas tak lagi
menuliskan igauanku. Semuanya beterbangan dan hangus
seperti putaran waktu. Kini tak ada lagi sisa
tak ada lagi yang tinggal pada pasir dan kelopakku
kian runcing dan pucat.
Kembali aku bergulingan
bagai cacing. Bersujud lama sekali

Engkau siapa? sebab telah kutatah nisan yang indah
telah kutulis sajak-sajak paling sunyi

(Acep Zamzam Noor, 1986)

gila emang gw lagi religius banget kali ya??? sampe nulis puisi favorit gw yang satu ini...